Titah yang Membawa Bencana
Label: Kompas
Meretas Budaya Kekerasan
Mengherankan, mengapa bentrok sehari sebelumnya yang melibatkan subyek yang sama (Satpol PP) tidak diselesaikan secara bijaksana, tetapi justru memuncak dengan kekerasan yang lebih besar pada hari berikutnya? Benarlah yang ditengarai tajuk harian ini (Kompas, 15/4). Mengapa pertikaian tidak diselesaikan secara baik-baik melalui musyawarah? Bukankah kekerasan tidak bisa menyelesaikan persoalan secara permanen dan memenuhi rasa keadilan para pihak yang bertikai? Bukankah penyelesaian secara kekerasan hanya akan menyimpan dan melahirkan kekerasan dan dendam?
Read More...
Label: Kompas
Fenomena Kolonialisme Pemda
Pada zaman merdeka dan damai seperti sekarang, menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia lebih nyaman dibanding menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja sebab menjadi anggota TNI nyaris mustahil berhadapan dengan rakyat sendiri.
Sebaliknya, menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sangat mungkin sering berhadapan dengan rakyat. ”Berhadapan” berarti berperang atau saling membantai. Artinya, setiap anggota Satpol PP sewaktu-waktu harus bersedia mengalami cedera atau bahkan tewas ketika menjalankan tugasnya.
Begitulah. Dua paragraf di atas dikutip dari perbincangan rakyat di warung kopi sambil menyaksikan tayangan berita kerusuhan di Koja, Tanjung Priok, Rabu (14/4) hingga dini hari kemarin, yang menelan banyak korban.
Read More...
Label: Kompas
Pelayanan Publik Vs Anggaran
MASYARAKAT kini sedang harap-harap cemas menanti apakah Undang-Undang (UU) Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang secara normatif akan berlaku Juni 2010 bisa direalisasikan. Aturan ini sangat menjanjikan karena mengatur standar pelayanan, tanggung jawab penyelenggara pelayanan publik, dan hak-hak publik atas pelayanan.
Bahkan memuat pelayanan administrasi sipil yang secara tegas harus diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Janji manis ini kalau tidak dipersiapkan dengan baik hanya akan menjadi janji semata, mengingat kemampuan pengelolaan anggaran di badan publik dan lembaga-lembaga pelayanan publik masih memprihatinkan.
Read More...
Label: Suara Merdeka
Priok, Spiral Kekerasan Sosial
TRAGEDI Priok kembali terulang meskipun berbeda dari tahun 1984 yang merupakan buah konflik antarelemen masyarakat sipil yang berhadapan dengan kekuatan represif negara dalam kondisi politik otoriter. Tragedi Priok 14 April 2010 melibatkan masyarakat yang berhadapan dengan aparatur penegak hukum sipil, Satpol PP.
Bentrokan berdarah yang disulut rencana pembongkaran makam tokoh karismatik Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau Mbah Priok itu menyebabkan seorang tewas dan sedikitnya 134 orang luka-luka (SM, 15/04/10).
Read More...
Label: Suara Merdeka
Miras dan Gejala Eskapisme Semu
’’PESTA Miras, Tiga Orang Tewas’’, demikian judul berita harian ini (SM, 04/04/10). Sedikitnya tiga nyawa warga Brebes melayang setelah mereka pesta minuman keras (miras) oplosan.
Angka tersebut menambah panjang deretan jumlah korban jiwa sia-sia akibat me-ngonsumsi miras oplosan. Menurut catatan penulis, selama setahun terakhir miras oplosan merenggut sedikitnya 100 nyawa di seluruh wilayah Tanah Air.
Diawali dari Kota Banjar dan Kabupaten Indramayu (Jawa Barat), Kota Semarang dan Kota Tegal (Jawa Tengah), Kabupaten Sanglah (Bali), Manokwari (Papua), tewasnya 9 warga Yogyakarta usai pesta miras oplosan jenis lapen Februari 2010, tewasnya empat orang warga Cengkareng, Jakarta akhir Maret 2010, hingga kejadian terakhir yang menewaskan tiga warga Brebes tersebut.
Read More...
Label: Suara Merdeka
Eugenika, Akhir Kekhilafan Pendidikan
Saya pun yakin idealisme sebagian besar pendidik di perguruan tinggi belum tergadaikan untuk menjadikan lembaga pendidikan tinggi sebagai ”industri jasa pendidikan”.
Maka, menurut saya, memang tidak mudah menjalankan amanat UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tanpa kekhilafan.
Oleh karena itu, tulisan ini
lebih mengungkapkan kekhawatiran terhadap kekhilafan dunia pendidikan yang dapat membuat kita tanpa sadar keliru dan berakhir pada ”eugenika”.
Read More...
Label: Kompas
Mengelola Politik Karisma
Demokrasi politik meniscayakan karisma dan hingga kini kita masih menyimak banyak fenomenanya. Di Indonesia, misalnya, tak hanya Megawati Soekarnoputri yang mempertegas posisinya sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, tetapi juga Susilo Bambang Yudhoyono yang restunya diyakini sangat menentukan siapa pucuk pimpinan Partai Demokrat.
Di Thailand, demonstran ”Kaus Merah” yang menggegerkan pentas politik yang demikian masif tak lepas dari efek karisma mantan PM Thaksin Shinawatra. Di AS pun, hadirnya Barack Obama sebagai presiden juga tak dapat dielakkan dari karisma.
Dalam khazanah sosiologi politik, Max Weber pernah menjelaskan adanya otoritas karismatis, yang terkait dengan persepsi adanya individu yang memiliki karakter pribadi dan ”kesucian” luar biasa, heroik, serta berdimensi kewahyuan. Otoritas karismatis ini bersifat familial dan ”keagamaan” (religious). Otoritas tradisional bersifat patriarkal, patrimonial, dan feodal. Otoritas legal lebih terkait pada aspek hukum dan kenegaraan modern dan bersifat birokratis.
Read More...
Label: Kompas
Gayus dan Patologi Birokrasi
Vices, maladies, and sickness of bureaucracy constitute bureaupathologies. They are not individual failings of individuals who compose organizations but the systematic shortcomings of organizations that cause individuals within them to be quilty of malpractices. (Gerald E Caiden, 1991).
Gayus Tambunan mendadak saja menjadi orang yang terkenal saat ini di Indonesia. Bukan karena prestasinya di birokrasi meningkatkan penerimaan pajak, melainkan justru karena perbuatannya telah memperkokoh keyakinan tentang buruknya birokrasi Indonesia.
Tidak semua birokrat seperti Gayus, tetapi kelemahan sistem organisasi seperti dituliskan oleh Caiden—seorang pakar ternama reformasi administrasi—telah membentuk citra menyeluruh mengenai buruknya birokrasi Indonesia.
Read More...
Label: Kompas
Ideologi Media Massa
Media massa hampir selalu berada dalam impitan dua kepentingan. Kepentingan pertama, bisnis. Kepentingan kedua, idealisme.
Di tengah dua kepentingan itu sangat sulit bagi konsumen pers mengharap sajian media massa yang tidak berpihak. Sajian pers Indonesia pun tidak terlepas dari kapitalisme media di satu sisi, dan euforia publik di sisi lain. Euforia publik dan kapitalisme media itu dibentuk oleh terpaan globalisasi dan hedonisme, yang mengakibatkan kesenjangan komunikasi antara pengelola lembaga media, dengan berbagai pemangku kepentingannya.
Perbedaan mindset antara pemilik dan pengelola pers dengan konsumen pers merupakan embrio kegagalan media massa membangun human dignity di tengah kehidupan individu dan masyarakat. Salah satu dampaknya adalah lubernya aksesibilitas pers dalam membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan opini publik, yang tak diimbangi akuntabilitas eksternal media massa sebagaimana seharusnya.
Read More...
Label: Kompas
Budaya Hidup Bersih di Grobogan
KEBERHASILAN Kabupaten Grobogan memperbaiki peringkat perolehan Adipura beberapa tahun terakhir ini, haruslah kita syukuri. Hal itu mengingat tahun-tahun sebelumnya kendati telah bekerja keras untuk memperbaiki peringkat, hasilnya masih jauh dari harapan masyarakat. Baru beberapa tahun terakhir inilah dapat memperoleh hasil menggemberikan. Kesuksesan itu menjadikan daerah ini menjadi salah satu yang diperhitungkan dalam persaingan meraih penghargaan tersebut.
Apalagi saat ini Grobogan terus berbenah. Bekerja keras untuk memperbaiki 20 titik atau kawasan yang menjadi penilaian. Terutama areal pasar, sekolah, jalan raya, dan terminal. Bila kerja keras ini selalu konsisten dilaksanakan, maka tidak mustahil ke depan daerah ini dapat meraih prestasi terbaik.
Read More...
Label: Suara Merdeka
Budaya dan Karakter Bangsa
JIKA kita menapaki Hopkins Memorial Steps di Massachusetts terbaca jelas inkripsi yang puitis: Climb high / Climb far / Your goal the sky / Your aim the star.
Mendidik adalah menyentuh masa depan. Manusia bisa meraih lebih dari sekadar sepanjang tangannya. Tatkala Aristoteles ditanya apa bedanya orang yang terdidik dengan orang yang tidak berpendidikan, jawabannya amat menyengat: ‘’Sama saja membandingkan orang hidup dengan orang mati’’.
Francis Bacon, filsuf Inggris pernah menyatakan bahwa knowledge is power. Tidak ada batas usia untuk belajar, menimba ilmu, menambah pengetahuan. Makin banyak kita belajar, semakin sadar kita akan banyaknya rahasia alam yang belum terungkap. Apa yang sudah kita ketahui bisa diibaratkan beberapa butir pasir di pantai yang luas.
Read More...
Label: Suara Merdeka
Proses Teaching with Love
PALING tidak kita mempunyai dua pengalaman dalam mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa, yaitu masa rezim Soekarno dan di masa rezim Soeharto. Pada masa demokrasi terpimpin dan pada era demokrasi Pancasila. Yang pertama dikenal dengan cara program santiaji dalam rangka nation and character building, atau membangun karakter bangsa, dan yang kedua dilaksanakan lewat program penataran P4, yang berisi pedoman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila.
Keduanya dilaksanakan lewat jalur pendidikan formal dalam kerangka kurikulum sekolah, ataupun dalam jalur pendidikan nonformal atau luar sekolah.
Read More...
Label: Suara Merdeka
Melihat Artikel dibayar Rp 300,00 - Rp 3.000,00. Siapa Yang Mau?
Kemarin baru jalan-jalan di sebuah forum. Di forum tersebut dijelaskan bahwa ada program baru, kaya PTC, namun bayarannya super mahal. Kalo PTC biasa bayarannya adalah 300, namun PTC yang ini bayarannya antara 300 - 3000 wow.... Saya sudah mencobanya dan nilai terbesarnya adalah 3.000 rupiah, kalo aslinya sih $0.3 wow...
20 x 500 x 12 x 5 = 18 JUTA LIMA TAHUN
wow fantastik
Ingin mencoba silakan daftar saja di sini :
DOWNLOAD EBOOK
Read More...
Label: Bussiness
Knowing the Ins and Outs of Chandelier Exit
Have you ever heard of a stop placement strategy that trails stop based on previous 'high' points? It is called Chandelier exit as it hangs down from the high point or the ceiling of our trade, just as a chandelier hangs from a room ceiling. The distance, which is usually calculated from the high point to the trailing stop; could also be calculated in dollars or in contract based points. However, the value of this trailing stop moves upward very promptly as higher highs is reached.
Read More...
Label: Trading Strategy